JAWA BARAT — Seorang kontributor podcast FPL Show dan Off The Bench, Pras, kembali menghidupkan wacana yang sempat mengemuka. Idenya: adu penalti digelar langsung setelah waktu normal. Tim pemenang mendapat keunggulan setengah gol (0-0,5) jelang 30 menit extra time.
Prinsipnya sederhana. Dengan keunggulan setengah gol, satu tim dipastikan bermain menyerang di setiap menit extra time. Tim yang kalah adu penalti wajib mengejar ketertinggalan, sementara pemenang bisa memilih bertahan atau menambah keunggulan.
"Pemenang adu penalti mendapat keunggulan setengah gol. Tim yang kalah punya kesempatan untuk menang," tulis Pras di akun X-nya, mengutip mekanisme yang ia usulkan.
Namun, ide ini punya kelemahan besar. Sepak bola justru dikenal karena momen adu penalti yang penuh tekanan dan dramatis. Taruhannya jelas: menang atau tersingkir. Penonton sudah menerima bahwa hasil adu penalti kadang terasa tidak adil—sebagai imbalan atas tontonan spektakuler.
Kekhawatiran lain mengingatkan pada eksperimen golden goal era 1990-an. Aturan itu justru membuat kedua tim bermain sangat hati-hati, takut kebobolan, dan akhirnya tetap mengandalkan adu penalti. Efek sebaliknya dari yang diharapkan.
Jika usulan ini diterapkan, tim yang menang adu penalti punya insentif besar untuk bertahan total. Sementara tim yang kalah akan menekan habis-habisan. Hasilnya, extra time bisa berubah menjadi 30 menit latihan bertahan melawan serangan, bukan pertarungan terbuka.
Faktanya, dalam sistem saat ini, tim yang dominan biasanya mencoba memenangkan pertandingan di extra time untuk menghindari lotere penalti. Jika mereka sudah unggul setengah gol, motivasi untuk menyerang justru berkurang drastis.
Hingga saat ini, wacana tersebut belum masuk dalam agenda resmi pembahasan aturan oleh International Football Association Board (IFAB). Tidak ada indikasi bahwa badan pembuat aturan sepak bola dunia akan menguji coba sistem ini dalam waktu dekat.
Untuk saat ini, adu penalti tetap menjadi cara yang kontroversial namun adiktif untuk menentukan pemenang. Dramanya—mulai dari tatapan mata eksekutor, langkah penjaga gawang, hingga sorak sorai atau tangisan—adalah bagian yang tak tergantikan dari sepak bola knockout.