JAWA BARAT — Tekanan terhadap rupiah masih berlanjut di akhir pekan ini. Empat bank utama nasional—BCA, Bank Mandiri, BRI, dan BNI—serempak menyesuaikan kurs jual dolar AS ke level psikologis baru pada hari ini.
Bank Mandiri mematok kurs jual dolar AS di angka Rp 17.200 per dolar, sementara kurs beli di level Rp 16.900. Angka ini berlaku untuk transaksi e-Rate yang diperbarui pukul 09.00 WIB. BRI menawarkan harga jual sedikit lebih rendah di Rp 17.180, dengan kurs beli di Rp 16.880. Adapun BNI memasang kurs jual di Rp 17.190 dan kurs beli di Rp 16.910.
Untuk nasabah BCA, nilai tukar dolar AS berada di level Rp 17.150 (beli) dan Rp 17.250 (jual) untuk transaksi di counter. Perbedaan spread antara kurs beli dan jual di BCA tercatat paling lebar dibandingkan bank lainnya, mencapai Rp 100 per dolar.
Tekanan pada mata uang Garuda tidak lepas dari penguatan indeks dolar AS di pasar global. Sentimen risk-off masih mendominasi pasar Asia menyusul data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari ekspektasi, memicu spekulasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga lebih lama.
Di sisi domestik, pelaku pasar masih mencermati aliran modal asing keluar dari pasar obligasi dan saham Indonesia. Data transaksi Bank Indonesia menunjukkan investor asing mencatatkan jual bersih di pasar obligasi negara sepanjang pekan ini.
Bagi nasabah yang berencana bepergian ke luar negeri atau membayar tagihan dalam dolar, biaya yang harus dikeluarkan hari ini lebih mahal dibandingkan pekan lalu. Selisih kurs jual antar bank juga patut diperhatikan: BCA menawarkan kurs jual termahal di Rp 17.250, sementara BRI menjadi yang termurah di Rp 17.180.
Sementara itu, importir yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS dalam waktu dekat disarankan untuk melakukan lindung nilai (hedging). Selisih kurs yang mencapai Rp 300 per dolar dalam sepekan terakhir berpotensi menggerus margin keuntungan perusahaan.
Analis pasar uang memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 17.100 hingga Rp 17.300 dalam sepekan ke depan. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada rilis data inflasi Indonesia bulan Juni yang dijadwalkan awal pekan depan, serta keputusan suku bunga Bank Indonesia pada pertemuan bulan Juli.
“Selama indeks dolar AS masih bertahan di atas 105 poin, tekanan terhadap rupiah akan terus ada,” ujar seorang analis dari sebuah sekuritas asing di Jakarta.