Badan Geologi Deteksi Suplai Magma ke Permukaan Gunung Karangetang, Warga Dilarang Dekati Kawah

Penulis: Ivan Setiawan  •  Minggu, 14 Juni 2026 | 16:19:31 WIB
Instrumen pemantau Badan Geologi merekam lonjakan kegempaan Gunung Karangetang periode 1-10 Juni 2026.

JAWA BARAT — Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, merilis data lonjakan kegempaan yang terekam pada periode 1-10 Juni 2026. Berdasarkan laporan khusus yang dibagikan melalui grup percakapan Info Gunung Api Sitaro di Manado, Minggu (14/6/2026), instrumen pemantau mencatat 20 kali gempa vulkanik dangkal dan 100 kali gempa vulkanik dalam.

Selain itu, tim pemantau juga merekam dua kali gempa guguran, 44 kali gempa embusan, 20 kali tremor harmonik, 47 kali tremor nonharmonik, serta enam kali gempa hybrid/fase banyak. Satu gempa tektonik lokal, sembilan gempa terasa pada skala I-IV MMI, dan 143 gempa tektonik jauh turut mendominasi catatan seismik gunung tersebut.

Lonjakan Harian yang Signifikan

Puncak aktivitas terjadi pada Kamis, 11 Juni 2026, ketika 70 kejadian gempa vulkanik dalam terekam dalam sehari. Fluktuasi terus berlanjut pada 12 dan 13 Juni, ditandai peningkatan gempa hybrid, gempa guguran, hingga tremor nonharmonik.

Meski kegempaan melonjak, Badan Geologi mencatat belum ada anomali visual di lapangan. Tinggi kolom asap dari puncak gunung masih relatif normal, berkisar 20 meter.

Indikasi Proses Mobilisasi Magma

Menurut Lana Saria, rangkaian gempa tersebut mengindikasikan kuat terjadinya mobilisasi suplai magma dari perut bumi ke area dangkal. Rentetan gempa vulkanik dangkal, hybrid, dan guguran pasca-lonjakan gempa vulkanik dalam menjadi indikator bahwa fluida di permukaan mulai mengganggu kesetimbangan kubah lava yang ada.

"Pada periode 1-10 Juni 2026 terekam dua kali gempa guguran, 44 kali gempa embusan, 20 kali tremor harmonik, 47 kali tremor nonharmonik, enam kali gempa hybrid/fase banyak," kata Lana Saria dalam laporan tersebut.

Fenomena ini biasanya menjadi penanda bahwa gunung api sedang bersiap menuju fase erupsi atau efusif, yakni lelehan lava.

Rekomendasi Radius Aman dan Larangan Aktivitas

Merespons potensi bahaya tersebut, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi jarak aman. Masyarakat dilarang keras memasuki dan beraktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari pusat kawah utara dan kawah selatan.

Perluasan zona bahaya diterapkan sejauh 2,5 kilometer pada sektor barat daya dan selatan dari kawah selatan. Karakteristik utama Gunung Karangetang menyimpan potensi bahaya berupa erupsi magmatik serta guguran awan panas yang dapat meluncur sewaktu-waktu ke arah lembah di bawah kawah utara maupun kawah selatan.

Pemerintah mengimbau warga Kabupaten Kepulauan Sitaro agar tidak panik dan mengikuti instruksi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Masyarakat diminta jeli menyaring informasi agar tidak terpancing oleh berita hoaks yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Reporter: Ivan Setiawan
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top