BOGOR — Kota Bogor tak hanya dikenal sebagai kota destinasi wisata dengan julukan Kota Hujan. Di balik itu, terdapat kekayaan kuliner khas yang melekat kuat dengan sejarah dan budaya lokal, dan sulit ditemukan di daerah lain.
Setidaknya ada tujuh jenis makanan yang menjadi ikon kota ini. Mulai dari hidangan berkuah hingga camilan ringan, semuanya punya cerita dan cita rasa yang unik.
Salah satu kuliner yang paling populer dan menjadi favorit wisatawan adalah Laksa Bogor. Berbeda dengan laksa dari daerah lain, Laksa Bogor menggunakan mi kuning tebal yang disiram kuah kental berbahan dasar oncom hitam yang difermentasi.
Isiannya lengkap, mulai dari tauge, bihun, telur rebus, suwiran ayam, hingga daun kemangi. Kuahnya yang gurih dan sedikit pedas membuat hidangan ini cocok disantap saat cuaca dingin di Bogor.
Doclang adalah sajian lontong yang diiris tipis, lalu disiram bumbu kacang kental, kecap manis, dan taburan bawang goreng. Uniknya, doclang tidak menggunakan sayuran seperti ketupat sayur pada umumnya.
Pelengkapnya hanya tahu goreng dan kerupuk. Meski sederhana, rasa gurih manis dari bumbu kacangnya menjadi ciri khas yang sulit ditiru.
Asinan Bogor mungkin yang paling dikenal di antara kuliner khas kota ini. Berisi aneka sayuran dan buah-buahan lokal seperti kedondong, bengkuang, dan nanas yang direndam dalam kuah cuka, cabai, dan kacang tanah.
Teksturnya segar dan rasanya yang kompleks—asam, pedas, manis—menjadikannya camilan yang digemari sepanjang hari. Asinan Bogor versi kering juga banyak dijual sebagai oleh-oleh.
Meski namanya "toge goreng", hidangan ini tidak digoreng. Tauge direbus sebentar lalu ditumis dengan bumbu tauco, oncom, dan kecap, kemudian disajikan di atas lontong atau ketupat.
Rasa gurih dari tauco dan oncom berpadu dengan renyahnya tauge. Toge Goreng Bogor seringkali menjadi menu sarapan favorit warga lokal.
Mie Glosor terbuat dari tepung aci (kanji) sehingga teksturnya kenyal dan licin—dari situlah nama "glosor" berasal. Mi ini disiram kuah kuning berbumbu kunyit, bawang putih, dan cabai.
Biasanya disajikan dengan tambahan sayuran, telur, dan kerupuk. Teksturnya yang unik dan kuahnya yang ringan membuat mie ini berbeda dari mi instan atau mi basah biasa.
Bir Pletok sebenarnya bukan bir, melainkan minuman tradisional berbahan dasar jahe, serai, kayu secang, dan kayu manis. Warnanya merah pekat dan rasanya hangat serta pedas karena rempah.
Minuman ini dipercaya dapat menghangatkan tubuh dan meningkatkan stamina. Di Bogor, Bir Pletok kerap dijadikan oleh-oleh khas dalam kemasan botol.
Peyeum atau tape singkong khas Bogor memiliki rasa manis dan sedikit asam hasil fermentasi. Teksturnya empuk dan berair. Berbeda dengan tape dari daerah lain, peyeum Bogor sering diolah menjadi berbagai kue tradisional seperti bolu peyeum atau digoreng sebagai camilan.
Kuliner-kuliner ini menjadi bukti bahwa Bogor memiliki warisan gastronomi yang kaya. Bagi wisatawan, mencicipi ketujuh hidangan ini bisa menjadi pengalaman wisata kuliner yang tak terlupakan selama berada di Kota Hujan.