JAWA BARAT — Kepercayaan diri Mercedes untuk memiliki bagian di tim yang bermarkas di Enstone itu pupus setelah Otro Capital membanderol 24 persen saham Alpine dengan harga sekitar €700 juta atau setara £606,3 juta. Angka tersebut dianggap berlebihan oleh tim berjuluk Silver Arrows tersebut.
Otro Capital diketahui membeli saham Alpine pada 2023 lalu dengan nilai €200 juta (£173,2 juta). Kala itu, Renault Group masih memegang 76 persen saham tim tersebut.
Perusahaan investasi yang juga pernah bekerja sama dengan tim NFL Dallas Cowboys ini disebut-sebut memiliki investor yang terdiri dari nama-nama besar seperti pegolf Rory McIlroy, petinju Anthony Joshua, dan bek Liverpool Trent Alexander-Arnold. Mereka diperkirakan bisa meraih keuntungan dua hingga tiga kali lipat dari investasi awal mereka pada 2023.
Di sisi lain, Mercedes diketahui menaksir nilai total tim Alpine hanya sekitar €3 miliar (£2,6 miliar). Artinya, banderol yang diminta Otro Capital dinilai tidak realistis oleh pabrikan asal Jerman tersebut.
Meski Mercedes menarik diri, Sky Sports melaporkan bahwa masih ada beberapa pihak yang tertarik membeli saham Alpine. Salah satunya adalah konsorsium yang terkait dengan mantan prinsipal tim Red Bull, Christian Horner.
Sebelumnya, rumor ketertarikan Mercedes untuk berinvestasi di Alpine pertama kali muncul pada awal tahun ini. Kabar itu pun memicu komentar dari penasihat eksekutif Alpine, Flavio Briatore, saat Grand Prix China.
"Setiap hari adalah situasi baru. Saya tidak tahu apa yang terbaru, tapi yang saya katakan adalah saya tahu ini negosiasi dengan Mercedes, bukan dengan Toto (Wolff) secara pribadi, dengan Mercedes, dan kita lihat saja," ujar Briatore.
"Saat ini, kami punya tiga atau empat calon pembeli. Jangan lupa, ini soal saham Otro, tidak ada hubungannya dengan Alpine. Ini saham yang dimiliki oleh hedge fund ini, namanya Otro, dana Amerika. Mereka ingin menjual 24 persen dan beberapa kandidat siap untuk melakukan kesepakatan," tambahnya.
Rencana investasi Mercedes ke Alpine sebelumnya juga menuai kritik dari CEO McLaren, Zak Brown. Ia menentang keras gagasan kepemilikan multi-tim di Formula 1 karena dinilai dapat mengancam integritas olahraga.
"Kami melihat lap tercepat dari satu tim, Daniel Ricciardo (saat membela Racing Bulls) mengambil satu poin dari McLaren untuk membantu Max (Verstappen) dan Red Bull (di GP Singapura 2024)," jelas Brown kepada Sky Sports News.
"Kami melihat transfer kekayaan intelektual dari satu tim ke tim lain. Kami melihat staf pindah dari satu tim ke tim lain dalam semalam, sementara saya harus menunggu hingga 2028. Jadi mereka mendapat keuntungan olahraga di sana, terkadang disertai kompensasi," pungkasnya.