Pencarian

AI Mulai Tentukan Destinasi Liburan, Wisatawan Tetap Verifikasi Sebelum Booking

Rabu, 07 Oktober 2026 • 16:19:02 WIB
AI Mulai Tentukan Destinasi Liburan, Wisatawan Tetap Verifikasi Sebelum Booking
Wisatawan leisure Amerika Serikat mulai memakai AI untuk menyusun daftar destinasi liburan.

JAWA BARAT — Riset Mower 2026 terhadap 1.000 wisatawan leisure Amerika Serikat usia 18–64 tahun menemukan 28% responden memulai perencanaan perjalanan dengan AI, mendekati Google Search di angka 30%. Meski rekomendasi AI semakin menentukan destinasi mana yang masuk shortlist, 59% wisatawan masih mencari ulang di Google dan 49% membuka website resmi sebelum memesan. Pola baru yang terbentuk: AI untuk discovery, manusia untuk verifikasi.

Survei Mower pada 2026 melibatkan 1.000 wisatawan leisure Amerika Serikat berusia 18–64 tahun yang setidaknya sesekali memakai AI. Dari kelompok itu, 86% pernah menggunakan AI khusus untuk merencanakan perjalanan, dan 97% di antaranya mengaku AI memengaruhi sebagian perjalanan leisure terakhir mereka.

Yang menarik, pengaruh AI berhenti di tahap pertimbangan. Setelah menerima rekomendasi, wisatawan tidak langsung memesan. Mereka kembali melakukan pengecekan mandiri sebelum transaksi.

AI Masuk Sejak Tahap Discovery, Bukan Cuma Itinerary

Selama ini AI dipakai untuk menyusun jadwal harian atau memperkirakan biaya. Kini perannya bergeser lebih awal, ke fase ketika wisatawan masih mencari inspirasi dan menyaring pilihan.

Pertanyaan seperti "Saya punya budget Rp10 juta, suka alam dan kuliner, hanya punya lima hari, dan tidak ingin tempat terlalu ramai" menjadi pola baru. AI menyaring destinasi berdasarkan konteks lengkap: anggaran, durasi, jumlah orang, minat, musim, akses transportasi, hingga tingkat keramaian yang diinginkan.

Di titik ini AI berfungsi sebagai mesin kurasi. Bukan penentu akhir, tapi penentu destinasi mana yang pertama masuk radar wisatawan.

Lima Persen Saja yang Pesan Persis Rekomendasi AI

Data Mower menunjukkan kepercayaan tetap jadi penentu. Dari wisatawan yang menerima rekomendasi AI, 59% mencari ulang di Google, 49% mengunjungi website resmi, 40% membandingkan harga di berbagai situs, dan 20% bertanya ke AI lain untuk cross-check.

Hanya 5% yang mengaku memesan persis seperti rekomendasi AI. Artinya, AI menentukan apa yang dipertimbangkan, tapi verifikasi manusia menentukan apa yang dibeli.

Kesiapan Digital Jadi Modal Bersaing Destinasi

World Economic Forum dalam Travel & Tourism Development Index 2026 mencatat 91% ekonomi yang masuk indeks mengalami peningkatan skor ICT Readiness antara 2024 dan 2026. Pilar ini mencakup penggunaan internet, broadband, jaringan seluler, pembayaran digital, platform online, dan keandalan listrik.

Angka 91% bukan berarti 91% negara sudah memakai AI dalam pariwisata. Yang meningkat adalah kesiapan digitalnya. WEF menilai kemajuan AI semakin memengaruhi cara destinasi berkompetisi, sehingga infrastruktur digital, keterampilan tenaga kerja, dan kemampuan mengelola data jadi semakin penting.

AI butuh fondasi: data tersedia, informasi mudah diakses, infrastruktur memadai, dan SDM yang mampu memanfaatkannya. Sebelum bicara AI, destinasi harus memastikan satu hal dulu, datanya benar.

Dari SEO ke AI Visibility

Selama bertahun-tahun pengelola destinasi berlomba lewat SEO. Sekarang muncul pertanyaan baru: apakah destinasi mudah ditemukan dan dipahami AI?

Konsep AI visibility menggambarkan kemampuan destinasi, atraksi, hotel, restoran, atau bisnis wisata muncul relevan dalam jawaban sistem AI. Istilah ini bukan indikator resmi TTDI, tapi relevansinya naik seiring perubahan cara wisatawan mencari informasi.

WEF mencatat digitalisasi memengaruhi hampir seluruh perjalanan wisatawan, dari perencanaan dan booking hingga pembayaran dan aktivitas setelah perjalanan. AI memperkuat perubahan itu.

Informasi Destinasi yang Dicari AI

Agar mudah dikutip sistem AI, informasi destinasi perlu memenuhi beberapa syarat:

  • Jelas dan tidak ambigu
  • Akurat sesuai kondisi lapangan
  • Konsisten di semua kanal
  • Terkini, bukan data lama
  • Mudah ditemukan mesin pencari
  • Mudah diverifikasi sumbernya

Data yang dimaksud mencakup atraksi, harga tiket, akses transportasi, akomodasi, event, jam operasional, musim terbaik, hingga aktivitas yang tersedia.

Implikasi untuk Destinasi Indonesia

Bagi pengelola wisata di Indonesia, temuan ini memberi sinyal praktis. Wisatawan yang datang kini mungkin sudah "diarahkan" AI sejak awal, tapi mereka tetap akan mengecek ulang harga tiket, jam buka, dan ulasan sebelum memesan.

Destinasi yang datanya rapi di situs resmi, konsisten di berbagai platform, dan mudah diverifikasi punya peluang lebih besar masuk shortlist AI sekaligus lolos verifikasi calon pengunjung. Sebaliknya, informasi yang tersebar tidak konsisten berisiko tersaring di tahap awal, sebelum wisatawan sempat membuka halaman booking.

Perubahan ini tidak menghapus peran mesin pencari. Ia menambah lapisan baru di depan: AI sebagai penyaring pertama, manusia sebagai pengambil keputusan akhir.

Follow bandungline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: mistar.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks