SUMEDANG — Sebanyak 35 anak TK mengikuti edukasi tentang Palestina di Palestine Center 171 Sumedang, Jawa Barat. Kegiatan open house bersama RA Nurul Mujahidin berlangsung selama satu setengah jam, pukul 09.00–10.30 WIB.
Selama sesi tersebut, anak-anak belajar mengenal sejarah Palestina dan aksi boikot melalui pematerian, permainan interaktif, hingga sensory play. Pendekatan yang dipakai disesuaikan dengan dunia anak-anak agar materi mudah dicerna.
Kisah Palestina Disampaikan Lewat Cerita yang Dekat dengan Anak
Fidela Rudiana menyampaikan materi dengan pendekatan yang disesuaikan untuk anak-anak. Ia membawakan kisah Palestina sebagai bagian dari kehidupan yang dekat dengan mereka.
"Ada anak sama seperti kita, suatu pagi tiba-tiba tak punya ibu dan ayah lagi, karena Israel mengebom rumah tempat tinggalnya," ujar Fidela.
Cara itu dipilih agar anak-anak memahami situasi di Palestina tanpa harus dibebani narasi yang terlalu berat. Kisah disampaikan sebagai cerita tentang anak lain seusia mereka.
Belajar Boikot Dimulai dari Memilih Camilan Sendiri
Pada sesi di dalam ruangan, Fidela mengenalkan aksi boikot. Anak-anak memang belum aktif berbelanja, tetapi mereka sudah mulai memilih camilan sendiri.
Fidela mengajak mereka memahami konsep boikot melalui video storytelling tentang Anna yang berbelanja bersama ibunya di supermarket. Dari cerita itu, anak-anak diajak mengenali berbagai produk.
Panitia kemudian mengajak anak-anak menentukan produk yang boleh dipilih dan yang perlu dihindari berdasarkan materi boikot yang baru dipelajari. Cara ini membuat konsep boikot tidak sekadar hafalan, tetapi latihan memilih.
Mengenal Tiga Masjid Suci lewat Sensory Play di Area Luar
Setelah sesi di dalam ruangan, kegiatan berlanjut di area luar melalui sensory play. Anak-anak berkeliling "mengunjungi" tiga masjid suci sambil mengikuti permainan yang mengajak mereka melompat dan bergerak aktif.
Melalui aktivitas tersebut, mereka mengenal Masjidil Aqsa, Masjid Nabawi, dan Masjidil Haram dengan cara yang menyenangkan. Pendekatan bermain dipilih agar anak-anak tetap antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Kegiatan open house ini menggabungkan materi sejarah, pemahaman boikot, dan pengenalan tempat suci dalam satu paket edukasi untuk anak usia dini. Metode yang dipakai menyesuaikan kemampuan anak TK yang lebih mudah menyerap informasi lewat cerita dan permainan.