JAWA BARAT — Laporan Xendit Ecommerce Payments Momentum Report 2026 mencatat dompet digital dipakai dalam sekitar 60 persen pembelian responden Indonesia, tertinggi di Asia Tenggara. Survei melibatkan 6.000 konsumen di enam negara, termasuk 1.000 responden dari Indonesia, dan menyebut GoPay, OVO, DANA, serta ShopeePay sebagai pemain utama tanpa dominasi mutlak satu merek.
Presiden Xendit Nazim Ali menilai pergeseran perilaku pembayaran konsumen Indonesia menuntut pelaku usaha menyesuaikan metode pembayaran yang tersedia. Menurut dia, konsumen kini semakin meninggalkan pembayaran tunai, dan ketidaktersediaan metode pembayaran yang diinginkan menjadi alasan utama pembelian dibatalkan.
Laporan Xendit Ecommerce Payments Momentum Report 2026 disusun bersama penyedia intelijen pasar e-commerce Cube. Data laporan menggabungkan transaksi Xendit dengan survei terhadap 6.000 konsumen di enam negara Asia Tenggara.
Dompet digital digunakan dalam sekitar 60 persen pembelian yang dilakukan responden Indonesia. Sebanyak 70 persen responden mengaku memakai dompet digital untuk setidaknya separuh dari seluruh pembelian mereka.
Proporsi itu menjadi yang tertinggi di antara enam pasar Asia Tenggara yang diteliti. Dompet digital bukan lagi sekadar alternatif pembayaran, melainkan bagian dari rutinitas transaksi harian responden, terutama saat berbelanja lewat internet.
Dua angka tersebut perlu dibedakan. Angka 60 persen menunjukkan perkiraan penggunaan dompet digital dalam keseluruhan pembelian responden, sedangkan 70 persen menunjukkan proporsi responden yang mengandalkan dompet digital untuk minimal separuh pembelian mereka.
Xendit menegaskan data ini bukan pangsa pasar suatu merek dan bukan persentase seluruh transaksi pembayaran digital nasional. Survei menggambarkan perilaku responden yang diteliti, bukan sensus atas seluruh konsumen Indonesia.
Laporan menyebut GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay sebagai pemain yang membagi pasar dompet digital Indonesia. Tidak ada satu merek yang mendominasi secara mutlak dalam temuan survei.
Keempat layanan berada di kategori pembayaran yang sama, tetapi preferensi konsumen bisa berbeda tergantung kebutuhan dan tempat bertransaksi. Pengguna juga dapat memakai lebih dari satu dompet digital, misalnya untuk memanfaatkan promosi di platform tertentu.
Karena laporan tidak merinci pangsa pasar masing-masing merek, menyusun peringkat berdasarkan angka 60 persen atau 70 persen tidak tepat. Persaingan antarmerek juga ditentukan kemampuan menyediakan metode pembayaran yang relevan, kemudahan penggunaan, dan manfaat yang diterima pelanggan.
Nazim Ali menyatakan keputusan konsumen menyelesaikan pembelian tidak berhenti pada harga dan kualitas produk. Ketersediaan metode pembayaran ikut menentukan apakah transaksi benar-benar terjadi.
"Konsumen Indonesia kini semakin meninggalkan pembayaran tunai. Pertanyaannya, apakah pelaku usaha mampu mengimbangi perubahan ini dengan menyediakan pilihan pembayaran yang sesuai? Laporan kami menunjukkan bahwa alasan utama konsumen membatalkan pembelian adalah tidak tersedianya metode pembayaran yang mereka inginkan," ujar Nazim Ali melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Rabu, 21 Oktober 2026.
Bagi pedagang online, proses pembayaran menjadi bagian dari pengalaman berbelanja yang perlu diperhatikan. Konsumen yang sudah memilih barang bisa mengurungkan niat jika metode pembayaran yang biasa digunakan tidak tersedia saat checkout.
Bagi konsumen, kondisi ini memberi keleluasaan memilih layanan sesuai kebutuhan. Adapun bagi pelaku usaha digital, temuan Xendit menempatkan metode pembayaran sebagai faktor konversi, bukan sekadar pelengkap di halaman checkout.