DOJ Ungkap Peretas Korea Utara Infiltrasi 70 Perusahaan AS via Laptop Farm

Penulis: Haris Maulana  •  Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:24:01 WIB
Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengungkap infiltrasi peretas Korea Utara ke sedikitnya 70 perusahaan AS melalui operasi laptop farm di Texas.

JAWA BARAT — Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengungkap sedikitnya 70 perusahaan di Negeri Paman Sam telah disusupi peretas yang bekerja untuk rezim Korea Utara. Operasi itu dijalankan lewat puluhan "laptop farm" di Texas, dengan lebih dari 180 komputer disita dan dua warga Amerika ditangkap sebagai fasilitator.

Jaksa federal menuduh dua orang warga Amerika dan melakukan penggeledahan di puluhan lokasi yang dicurigai sebagai "laptop farm" di Texas. Komputer-komputer itu diduga dipakai warga Korea Utara untuk meretas perusahaan Amerika dari jarak jauh dan mencuri data sensitif.

Perusahaan-perusahaan yang disasar bergerak di sektor layanan kesehatan, dukungan siber, ritel, komunikasi, dan manufaktur. Lokasinya tersebar di Ohio dan 16 negara bagian lain, termasuk District of Columbia. DOJ tidak menyebut nama perusahaan korban.

Bagaimana Modus Laptop Farm Berjalan

Perusahaan Amerika mengirim perangkat kerja kepada karyawan baru yang mereka rekrut secara remote. Mereka tidak menyadari bahwa karyawan tersebut adalah agen Korea Utara yang memakai identitas warga Amerika curian untuk lolos seleksi.

Komputer itu kemudian diakses dari jarak jauh oleh peretas di Korea Utara. Dari situ mereka mencuri informasi sensitif dan kekayaan intelektual, lalu memeras perusahaan korban agar membayar lebih banyak.

FBI menyita lebih dari 180 komputer dalam operasi ini. Penggeledahan mencakup lebih dari 40 rumah dan tempat tinggal di Texas, angka terbesar yang pernah diungkap dalam kasus fasilitasi peretasan Korea Utara.

Peran Warga Amerika sebagai Fasilitator

Peretas Korea Utara semakin sering merekrut warga Amerika untuk mengatasi deteksi sektor swasta yang makin canggih. Mereka menyewa fasilitator untuk berbagai tugas, bahkan mensubkontrakkan seluruh pekerjaan kepada warga negara asing pihak ketiga.

Departemen Kehakiman menyatakan pola ini terus berkembang. "Increasingly, North Korean IT workers are turning to recruiting American facilitators to counter improved private sector detections and law enforcement actions," demikian pernyataan DOJ.

Dalam banyak kasus, peretas memakai alamat email yang tampak asli, profil LinkedIn palsu, dan akun media sosial lengkap sebagai kamuflase. Dana curian dari operasi ini diperkirakan mencapai sekitar US$3 juta.

Skala Ancaman Menurut FBI dan CrowdStrike

FBI dalam pengumuman terpisah menyebut ada "ribuan" pekerja TI yang dikendalikan negara Korea Utara bekerja di perusahaan Barat. Mereka dinilai menimbulkan ancaman keamanan nasional dan pencurian kekayaan intelektual dari dalam.

CrowdStrike, yang membantu FBI menyelidiki operasi ini, menilai laptop farm sangat vital bagi Korea Utara. Fasilitas itu membantu peretas mengatasi hambatan fisik, finansial, dan hukum karena tidak berada langsung di Amerika Serikat.

Perusahaan keamanan siber itu melaporkan sekitar separuh dari semua intrusi "hands-on-keyboard" yang terdokumentasi sepanjang tahun lalu dilakukan peretas Korea Utara. Istilah itu merujuk pada serangan yang dijalankan manusia, bukan alat otomatis atau AI.

Skema Pendanaan Program Nuklir

Skema pekerja TI remote menjadi salah satu jalur pendapatan ilegal rezim Korea Utara. Pyongyang juga meretas bursa kripto dan proyek pengembang open source untuk membiayai program senjata nuklirnya yang dikenai sanksi internasional.

Rezim itu diduga mencuri setidaknya US$2 miliar dalam bentuk kripto sepanjang 2025 saja. Para pakar Korea Utara menilai jumlah perusahaan yang diretas dan nilai kripto yang dicuri kemungkinan jauh lebih besar dari yang dilaporkan.

Gelombang penangkapan dan dakwaan ini menjadi yang terbaru dalam beberapa tahun terakhir. Skema pekerja TI remote memungkinkan warga Korea Utara diterima bekerja di perusahaan Amerika dan Eropa, menerima upah, lalu mencuri informasi rahasia selama menjadi karyawan.

Reporter: Haris Maulana
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top