JAWA BARAT — Produk domestik bruto Vietnam pada kuartal III 2026 tumbuh 9,95% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, laju tercepat sejak pandemi Covid-19 dan melampaui capaian kuartal sebelumnya yang sebesar 8,81%. Ekspor yang melonjak dan belanja infrastruktur menjadi dua mesin utama di balik akselerasi tersebut, meski defisit perdagangan sembilan bulan pertama justru mencetak rekor tertinggi.
Kantor Statistik Nasional Vietnam melaporkan ekspor barang pada September naik 39,1% secara tahunan menjadi US$ 59,48 miliar. Impor pada bulan yang sama meningkat 45,8% menjadi US$ 58,21 miliar, sehingga masih menyisakan surplus perdagangan bulanan sebesar US$ 1,27 miliar.
Namun akumulasi Januari-September menunjukkan gambaran berbeda. Ekspor naik 24,5% menjadi US$ 434,30 miliar, sementara impor melesat 36,7% menjadi US$ 453,72 miliar. Defisit perdagangan sembilan bulan pun membengkak menjadi US$ 19,42 miliar, rekor tertinggi bagi negara yang selama ini dikenal sebagai eksportir agresif.
Lonjakan nilai impor tidak sepenuhnya ditopang volume. Volume impor minyak mentah justru turun 13,5% pada periode sembilan bulan, tetapi nilainya naik 14,4%. Pola serupa terjadi pada bahan bakar olahan: volume hanya naik 11,5%, namun nilainya melonjak 79,3%.
Pemicunya adalah kenaikan harga energi global akibat perang Iran, yang memukul negara dengan ketergantungan impor energi setinggi Vietnam. Kondisi ini menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi yang hampir dua digit tetap menyisakan kerentanan struktural.
Total investasi selama sembilan bulan pertama naik 16,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah Vietnam mempercepat belanja publik di sektor infrastruktur sebagai instrumen utama mendorong pertumbuhan.
Arus masuk investasi asing langsung juga menguat 12,1% menjadi US$ 21,1 miliar. Sektor manufaktur tetap menjadi magnet, sejalan dengan strategi Vietnam memposisikan diri sebagai alternatif rantai pasok regional di tengah ketegangan dagang global.
Produksi industri pada September tercatat tumbuh 16,7% secara tahunan. Sementara itu, harga konsumen naik 5,08% dibandingkan tahun sebelumnya, angka yang masih dalam batas toleransi bank sentral Vietnam.