JAWA BARAT — Tekanan jual terhadap rupiah berlanjut pada sesi perdagangan pagi ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat melemah lebih dalam hingga 0,36% ke posisi Rp17.775 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB. Kondisi ini kontras dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia lainnya yang justru menguat.
Penguatan mata uang kawasan Asia ditopang oleh munculnya optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan damai di Selat Hormuz. Namun, sentimen positif dari eksternal tersebut tidak cukup kuat untuk mengangkat rupiah yang sedang bergulat dengan tekanan dari dalam negeri.
Pelaku pasar saat ini tengah mencermati dua isu utama yang berpotensi mempengaruhi stabilitas pasar keuangan dalam jangka pendek. Pertama, rencana aksi demonstrasi besar-besaran yang menuntut percepatan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset. Aksi massa ini dinilai berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi dan menciptakan ketidakpastian politik.
Kedua, pasar menanti arah kebijakan moneter terbaru dari Bank Indonesia di bawah kepemimpinan gubernur yang baru. Transisi kepemimpinan di bank sentral kerap menjadi periode yang disikapi hati-hati oleh investor, terutama dalam hal komitmen menjaga stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi.
Pelemahan rupiah terjadi di saat indeks dolar AS menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Sebagian besar mata uang Asia seperti won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan baht Thailand tercatat menguat terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini.
Penguatan tersebut didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah adanya sinyal positif menuju kesepakatan di Selat Hormuz. Namun, arus modal asing yang masuk ke pasar Asia tampaknya belum menyentuh pasar domestik, yang masih diselimuti sentimen negatif dari isu politik dan moneter di dalam negeri.
Para analis menilai bahwa pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah dan aparat keamanan merespons rencana aksi demonstrasi. Selain itu, komunikasi dari pejabat Bank Indonesia terkait strategi intervensi pasar juga akan menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Investor disarankan untuk mencermati perkembangan berita politik dalam negeri serta pernyataan resmi dari para pejabat ekonomi. Volatilitas nilai tukar diprediksi masih akan tinggi, sehingga pengelolaan risiko menjadi kunci utama bagi pelaku bisnis yang memiliki exposure terhadap mata uang asing.