GARUT — Kepastian agenda keagamaan itu disampaikan langsung oleh Ketua RW 01 Desa Cisewu, Eka Yuswanto. Ia menegaskan bahwa Ustadzah Awit Fitriani akan menjadi penceramah tunggal pada puncak acara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Pada Kamis malam 27 Agustus 2026, Ustadzah Awit Fitriani akan berceramah di Lapang Lemahluhur Desa Cisewu, dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Robiul Awal 1448 Hijriah, yang diselenggarakan warga RW 01,” kata Eka dalam keterangannya, Rabu.
Nama Awit Fitriani memang tengah menanjak di panggung pengajian Jawa Barat. Pendakwah perempuan ini dikenal karena gaya penyampaiannya yang khas: dakwah berbasis bahasa Sunda yang populer, jenaka, dan dekat dengan keseharian masyarakat.
Jejak safari dakwahnya terekam kuat di sejumlah daerah. Pada November 2025 lalu, ia diundang pengurus Muslimat dan Fatayat NU untuk mengisi forum Ahad Manis di Desa Sindangwangi, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dalam tausiyahnya, ia menyoroti benteng keimanan keluarga, etika rumah tangga, hingga posisi perempuan dalam membentuk moral generasi penerus.
Selain Brebes, jadwal dakwahnya juga menyisir Purwakarta, Subang, hingga sejumlah wilayah pedesaan lainnya. Popularitasnya di lapangan berbanding lurus dengan gaungnya di jagat maya. Video ceramahnya yang diunggah ulang di berbagai platform YouTube sering kali menembus ratusan ribu penayangan, terutama dengan judul “ceramah Sunda”, “dakwah Sunda”, hingga “ceramah lucu”.
Daya tarik Awit juga menembus panggung seni budaya. Pada 12–14 Juli 2026, namanya tercatat sebagai pengisi tausiyah dalam perhelatan Gelar Budaya Hajat Laut Rancabuaya di Garut Selatan. Ia berbagi panggung dengan Ustad Nana Gerhana dan dalang kondang Dadan Sunandar Sunarya Putra.
Keterlibatannya dalam hajat laut itu menunjukkan kepiawaiannya merajut nilai-nilai keislaman dengan tradisi serta ritus lokal masyarakat pesisir. Kehadirannya di Cisewu nanti dipastikan tak sekadar menyajikan ceramah rutin, tetapi juga menjadi ajang konsolidasi spiritualitas dan perayaan identitas kebudayaan warga pedesaan.