JAWA BARAT — Suasana Maulid Nabi di Pakistan berbeda dari negara lain. Ibu kota negara membuka peringatan dengan 31 tembakan penghormatan, sementara ibu kota provinsi menggelar 21 tembakan. Jalanan dan masjid dihiasi lampu, bendera, serta spanduk bertema keagamaan.
Pawai menjadi atraksi utama yang menyedot perhatian warga. Peserta berkumpul di sejumlah titik sambil melantunkan naat atau syair pujian untuk Nabi Muhammad SAW. Replika tempat suci bersejarah, termasuk Masjid Nabawi, ikut ditampilkan di beberapa kawasan.
Di India, komunitas Muslim di Mumbai dan Lucknow menjalankan ritual Sandal. Tradisi ini berkaitan dengan simbol jejak kaki Nabi yang terukir pada batu. Pawai yang membawa representasi tempat suci Makkah dan Madinah menjadi puncak acara di dua kota tersebut.
Tunisia menetapkan Maulid sebagai hari libur nasional. Sekolah, bank, dan pasar tutup, memberi ruang bagi keluarga untuk berkumpul menyantap assida, hidangan manis khas perayaan ini. Rangkaian kegiatan keagamaan berpusat di Masjid Oqba Ibn Nafaa, Kairouan, dengan pembacaan Al-Qur'an dan ceramah ulama.
Di Sidon, Lebanon Selatan, sebagian umat Muslim Sufi menjalankan ritual menusuk pipi dengan tusuk sate. Sementara di Tripoli, para derwis tampil berputar seperti planet mengelilingi matahari, menjadikan tarian sebagai bentuk ibadah.
Indonesia merayakan Maulid dengan perpaduan nilai agama dan budaya lokal yang kuat. Di Jawa Tengah, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar tradisi membawa enam gunungan berbentuk kerucut menuju Masjid Agung. Gunungan didoakan para ulama terlebih dahulu sebelum dibagikan ke masyarakat.
Jawa Barat punya ritual penyucian diri yang khas. Tradisi lain melibatkan anak-anak yang baru menyelesaikan khataman Al-Qur'an. Mereka mengenakan pakaian khusus, mengikuti prosesi bersama keluarga, dan sebagian menaiki kuda dalam arak-arakan meriah.
Catatan perayaan Maulid formal pertama muncul di Arbela, Irak, pada 1207 Masehi. Tradisi ini kemudian menyebar ke Mesir dan Makkah dengan bentuk kegiatan yang makin beragam. Di Nusantara, perayaan berpadu dengan tradisi lokal sehingga melahirkan ekspresi yang berbeda dari Timur Tengah.
Inti perayaan di mana pun tetap sama: pembacaan Al-Qur'an, selawat, ceramah tentang kehidupan Nabi, dan pembahasan ajaran Islam. Pembagian makanan serta bantuan untuk masyarakat kurang mampu juga menjadi praktik umum di berbagai komunitas.
Bagi traveler yang ingin menyaksikan langsung, waktu terbaik berkunjung ke Solo adalah saat perayaan Maulid tiba. Informasi jadwal pasti dapat dikonfirmasi melalui Dinas Pariwisata Surakarta atau akun resmi Keraton Kasunanan.