TSI Ingatkan Rantai Makanan Harimau Putus Akibat Perburuan Babi Hutan di Jawa Barat

Penulis: Gilang Permana  •  Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:35:01 WIB
Tony Sumampau menilai perburuan babi hutan mengganggu rantai makanan harimau di Jawa Barat.

Pendiri Taman Safari Indonesia (TSI) Tony Sumampau mengingatkan bahwa upaya penyelamatan harimau di Jawa Barat akan sia-sia jika rantai makanannya terus terganggu. Ia mencontohkan perburuan babi hutan oleh manusia yang menjadi penyebab harimau turun ke permukiman warga dan tertular penyakit dari ternak. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (Owaka) yang digagas Forum Konservasi Satwaliar Indonesia (Foksi) di Cisarua, Bogor, Sabtu (22/8).

BOGOR — Tony Sumampau menilai pemahaman masyarakat terhadap ekosistem satwa liar masih rendah, sehingga berdampak langsung pada kelestarian spesies yang dilindungi. Menurutnya, persoalan ini tidak hanya menyangkut harimau, tetapi juga satwa endemik lain seperti babi rusa, anoa, hingga burung ekek sunda yang kini nyaris punah.

Harimau Masuk Permukiman Karena Kehilangan Mangsa

"Bagaimana mau selamatkan harimau kalau rantai makanannya tak ada," kata Tony dalam acara yang digelar di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (22/8).

Ia menjelaskan, buruan utama harimau adalah babi hutan. Namun, babi hutan justru banyak diburu manusia sehingga mata rantai makanan predator tersebut terganggu. Akibatnya, harimau terpaksa masuk ke permukiman penduduk untuk mencari mangsa alternatif.

"Kemudian harimau itu tertular penyakit dari anjing dan ayam," ujarnya menambahkan.

Perburuan Anoa dan Babi Rusa Masih Marak

Tony juga menyoroti perburuan babi rusa atau anoa yang merupakan satwa endemik dan wajib dilindungi. Ia menilai praktik ini terjadi karena pemahaman masyarakat terhadap spesies yang dilindungi masih minim.

"Ini juga sebagai dampak dari pemahaman masyarakat terhadap spesies yang dilindungi masih kurang," katanya.

Burung Ekek Sunda di Gunung Pangrango Nyaris Punah

Selain mamalia besar, Tony menyebut burung ekek sunda atau dikenal sebagai ekek geling jawa (Cissa thalassina) yang berasal dari Gunung Pangrango, Jawa Barat, kini sulit ditemukan. Ia bahkan menyebut keberadaan burung endemik tersebut sudah nyaris punah.

"Bisa dikatakan keberadaan burung ini sudah nyaris punah karena tidak bisa ditemukan lagi di Gunung Pangrango," kata dia.

Tony menyayangkan kondisi tersebut. Perburuan burung endemik ini kerap dilakukan untuk dijadikan burung master, yakni burung yang dipelihara khusus untuk melatih suara burung kicau lain. Padahal, burung ekek sunda memiliki tingkat stres yang tinggi.

"Burung ini stresnya cepat hingga nyawanya tidak lama setelah menjadi burung master," ujarnya.

Melalui forum Owaka yang diikuti para wartawan, Tony berharap informasi tentang pentingnya rantai makanan dan perlindungan satwa liar dapat tersebar lebih luas ke masyarakat. Ia mendorong media untuk berperan aktif dalam mengedukasi publik tentang dampak perburuan terhadap keseimbangan ekosistem di Jawa Barat.

Reporter: Gilang Permana
Sumber: jabar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top