JAWA BARAT — Ancaman drone kecil atau small Unmanned Aerial Systems (sUAS) kini menjadi momok baru di berbagai konflik global. Menyadari hal ini, Korps Marinir AS tidak lagi hanya mengandalkan sistem penanggulangan elektronik seperti jamming GPS, tetapi juga melatih prajuritnya untuk menggunakan senjata api organik satuan sebagai pertahanan terakhir.
Ketika pasukan berada di lapangan dan menghadapi serangan drone tanpa perangkat penanggulangan elektronik, opsi yang tersisa hanyalah menembaknya secara langsung. Latihan yang digelar di Twentynine Palms, California, ini melibatkan personel dari Divisi Marinir 1 dan 2, dengan dukungan drone dari Kelompok Kontrol Latihan Taktis dan Latihan (TTECG), Resimen Marinir 7, serta Batalyon Pengintaian Lapis Baja Ringan 3.
Para prajurit diuji dengan simulasi ancaman dari drone konsumen yang dipiloti oleh penerbang ulung. Target yang bergerak cepat ini sengaja dibuat menantang, bukan sekadar tembak sasaran diam.
Dalam latihan tersebut, para marinir menggunakan berbagai senjata ringan yang sudah menjadi perlengkapan standar mereka. Berikut daftar lengkapnya:
Skenario latihan berlangsung intens. Drone musuh terbang dengan kecepatan lebih dari 90 mil per jam (sekitar 145 km/jam) dan melakukan serangan dari jarak hanya 20 meter dari posisi marinir. Kecepatan dan jarak ini memaksa prajurit untuk bereaksi cepat dan akurat dalam hitungan detik.
Kapten Faith Richardson, komandan peleton TTECG, menekankan bahwa kualitas pilot drone sangat menentukan efektivitas latihan. "Para pilot yang kami miliki sangat andal. Mereka adalah kontributor besar. Kami mencoba memberikan gambaran realistis tentang ancaman kepada peserta latihan, dan memiliki pilot yang terlatih adalah hal yang sangat penting," ujarnya.
Meningkatnya penggunaan drone murah dan komponen off-the-shelf dalam satu dekade terakhir mengubah peta ancaman militer. Kapten Richardson menambahkan, "Sistem udara tak berawak kecil sudah ada sejak lama, hanya saja saat ini lebih lazim di medan perang karena lebih hemat biaya."
Instruktur TTECG, Gunnery Sgt. Kevin Jares, menegaskan bahwa ancaman ini tidak bisa diabaikan. "Di mana pun di dunia modern, dalam semua konflik, ancaman sUAS menjadi semakin masif di medan perang. Kami mencari cara, dengan senjata organik regu, untuk melawan ancaman itu dan bertahan di medan perang modern," jelasnya.
Hasil dari latihan ini dinilai sukses dan akan menjadi bahan ajar. Sesi kelas serta praktik taktik respons terhadap sUAS dan C-sUAS (counter-small Unmanned Aerial Systems) akan dimasukkan ke dalam Latihan Tingkat Layanan (Service Level Training Exercises) di masa mendatang.
Bagi pengamat militer, langkah ini menunjukkan adaptasi cepat taktik infanteri terhadap teknologi drone yang murah dan mematikan. Ini juga menjadi pelajaran bahwa solusi berteknologi tinggi tidak selalu menjadi jawaban satu-satunya di tengah perang asimetris.