CIMAHI — Anak-anak Kampung Adat Cirendeu tampak lahap menyantap rasi goreng saat tradisi Tutup Taun dan Ngemban Taun digelar, Sabtu (11/7/2026). Rasi, singkatan dari beras singkong, merupakan pangan pokok khas masyarakat adat setempat yang diolah dari singkong parut.
Tradisi Tutup Taun menandai berakhirnya tahun 1959 Saka Sunda. Keesokan harinya, warga menyambut Ngemban Taun atau tahun baru 1 Sura 1960. Keduanya menjadi momentum refleksi dan doa bersama.
Masyarakat adat Cirendeu meyakini pergantian tahun bukan sekadar hitungan kalender. Ada dimensi spiritual yang kuat: rasa syukur atas hasil bumi dan harmoni dengan alam sekitar.
Dalam setiap perayaan adat, rasi selalu hadir sebagai simbol kemandirian pangan. Berbeda dengan beras pada umumnya, rasi dibuat dari singkong yang ditanam sendiri di lahan komunal kampung adat.
Proses pembuatannya masih tradisional: singkong diparut, diperas, dikeringkan, lalu ditumbuk hingga menjadi butiran menyerupai beras. Hasilnya kemudian digoreng atau dikukus sebagai lauk pendamping.
Kampung Adat Cirendeu dikenal sebagai salah satu enclave budaya Sunda yang mempertahankan pola makan non-beras sejak puluhan tahun lalu. Tradisi ini menjadi pilar ketahanan pangan yang diwariskan lintas generasi.
Rangkaian Tutup Taun dan Ngemban Taun tidak hanya berisi ritual doa. Ada pertunjukan seni budaya, permainan rakyat, dan gotong royong menyiapkan hidangan bersama.
Masyarakat adat Cirendeu memandang bahwa menjaga warisan budaya berarti menjaga keseimbangan ekosistem. Alam yang dirawat dengan baik akan memberikan kehidupan yang cukup bagi seluruh makhluk.
Kegiatan ini juga menjadi ajang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal kearifan lokal yang nyaris tergerus modernisasi. Anak-anak diajak langsung terlibat dalam prosesi adat sejak dini.
Berada di wilayah Kota Cimahi yang terus berkembang, Kampung Adat Cirendeu tetap teguh mempertahankan identitasnya. Tidak ada paksaan untuk mengikuti pola hidup modern yang serba instan.
Mereka membuktikan bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari hal sederhana: mengelola lahan sendiri, memproduksi pangan sendiri, dan mensyukuri hasilnya bersama-sama dalam bingkai tradisi.
Tradisi Tutup Taun dan Ngemban Taun tahun ini diharapkan menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak harus mengorbankan budaya lokal. Justru budaya bisa menjadi fondasi kehidupan yang lebih bermakna.