JAWA BARAT — Hasil ini membuat persaingan di Grup C masih sangat terbuka. Baik Brasil maupun Maroko sama-sama mengoleksi satu poin, dan tekanan kini beralih ke laga kedua yang akan menentukan langkah mereka menuju fase gugur.
Maroko menjadi tim yang lebih efektif di babak pertama. Mereka memecah kebuntuan pada menit ke-21 melalui aksi Ismael Saibari yang memanfaatkan umpan terobosan Brahim Diaz. Bola melewati celah pertahanan Brasil sebelum dituntaskan dengan tenang di depan Alisson.
Namun, keunggulan Maroko hanya bertahan 11 menit. Vinicius Junior menjadi pahlawan Brasil dengan menusuk dari sisi kiri dan melepaskan tembakan keras yang tak mampu dihalau Yassine Bounou. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum, meski Lucas Paqueta nyaris membalikkan keadaan lewat upaya akrobatik yang digagalkan Bounou.
Babak kedua berjalan lebih seimbang. Kedua kiper, Alisson dan Bounou, tampil gemilang dengan serangkaian penyelamatan krusial yang menjaga papan skor tetap sama hingga peluit akhir.
Carlo Ancelotti tidak menutupi kekurangpuasannya. Pelatih asal Italia itu menilai timnya tampil di bawah standar pada 45 menit pertama, terutama dalam duel dan penguasaan bola.
"Saya pikir kami tidak memulai pertandingan dengan baik, saya sedikit khawatir. Kami kalah dalam banyak duel dan kehilangan penguasaan bola," kata Ancelotti. "Namun, kami membaik pada babak kedua dalam pertandingan yang sulit karena Maroko adalah tim yang bagus."
Pelatih berusia 67 tahun itu mengaku mengharapkan awal yang lebih meyakinkan. Kini, fokusnya sepenuhnya beralih ke persiapan menghadapi laga berikutnya di Grup C.
Bek kanan Brasil, Danilo, memberikan penilaian lebih netral. Menurutnya, hasil imbang merupakan gambaran yang adil dari jalannya pertandingan.
"Hasil imbang ini adil karena pada babak kedua kami mampu menekan mereka. Kami juga memiliki peluang untuk mencetak lebih banyak gol dan harus lebih efektif ketika mendapatkan kesempatan," ujar Danilo.
Pernyataan Danilo menjadi pengingat bahwa Brasil masih memiliki pekerjaan rumah besar di lini depan. Meski mendominasi penguasaan bola setelah jeda, penyelesaian akhir yang kurang klinis membuat mereka gagal mengamankan tiga poin penuh.