BANDUNG — Distribusi air bersih menyasar ratusan kecamatan yang tersebar di kabupaten dan kota. Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Teten Ali Mulku Engkun, merinci sejumlah daerah penerima jatah air terbesar selama periode kekeringan.
Kabupaten Bekasi Terima 15,8 Juta Liter Air Bersih
Kabupaten Bekasi menempati posisi pertama penerima distribusi dengan 15,8 juta liter. Kabupaten Bogor menyusul dengan 7,6 juta liter, disusul Ciamis 3 juta liter dan Pangandaran 2,3 juta liter.
Purwakarta menerima 1,7 juta liter, sementara Kota Tasikmalaya mendapat 1,4 juta liter. Angka-angka itu bagian dari total 38,7 juta liter yang disalurkan ke wilayah terdampak.
Hujan Diperkirakan Turun Minggu Ketiga Oktober
BPBD Jabar mulai mencermati potensi perubahan cuaca berdasarkan prakiraan BMKG. Hujan diperkirakan mulai turun pada minggu ketiga Oktober, dimulai dari wilayah selatan lalu meluas ke tengah dan utara Jabar.
Meski begitu, puncak musim hujan baru diprediksi terjadi akhir 2026 hingga awal 2027. Artinya, warga masih menghadapi periode kering sebelum curah hujan benar-benar normal.
Tanah Kering Picu Risiko Longsor Saat Peralihan Musim
Teten mengingatkan peralihan musim perlu diwaspadai. Kondisi tanah setelah kemarau panjang diibaratkan seperti spons kering: air akan terserap lebih dulu, tetapi tanah gembur berpotensi longsor.
"Pemeliharaan dan penanganan PJU menjadi pekerjaan berkelanjutan, selain menjaga fungsi fasilitas, juga bentuk respons pemerintah terhadap kebutuhan warga," ujarnya.
Langkah Lanjutan BPBD Jabar
Penyaluran air bersih masih berlanjut ke sejumlah titik yang belum terlayani. BPBD Jabar bersama instansi terkait memantau perkembangan cuaca harian untuk mengantisipasi kebutuhan tambahan di wilayah selatan yang lebih dulu memasuki musim hujan.