Pencarian

Harga Pertamax Ditahan Oktober 2026, Pertamina Beberkan Alasannya

Rabu, 07 Oktober 2026 • 11:22:31 WIB
Harga Pertamax Ditahan Oktober 2026, Pertamina Beberkan Alasannya
Pertamina Patra Niaga menahan harga seluruh BBM nonsubsidi dan avtur sepanjang Oktober 2026.

JAWA BARAT — Pertamina Patra Niaga memutuskan menahan harga seluruh BBM nonsubsidi dan avtur sepanjang Oktober 2026, sama seperti level September. Keputusan ini menyusul pergeseran konsumsi dari Pertamax ke Pertalite yang diakui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dipicu selisih harga yang kian melebar.

Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga Joko Pranoto menyatakan tidak ada penyesuaian harga untuk seluruh Jenis Bahan Bakar Minyak Umum (JBU) retail maupun avtur pada bulan ini. Arahan tersebut berlaku sejak awal Oktober dan membuat banderol Pertamax bertahan di level yang sama dengan bulan sebelumnya.

"Posisi bulan ini, per Oktober itu memang ada arahan untuk harga seluruh JBU retail dan avtur itu masih kami tahan, sama dengan harga September," ucap Joko dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026.

Harga Pertamax Kini di Rp 15.950 per Liter

Pertamax sempat mengejutkan pasar ketika harganya melonjak per 10 Juni 2026, di luar kebiasaan penyesuaian yang biasanya jatuh di awal bulan. Saat itu harganya menyentuh Rp 16.250 per liter, naik nyaris Rp 4.000 dari banderol sebelumnya Rp 12.300 per liter.

Sejak Agustus hingga Oktober 2026, harga Pertamax bertahan di Rp 15.950 per liter. Joko menegaskan tidak ada perubahan angka di periode September-Oktober untuk seluruh JBU maupun avtur.

"Jadi kalau dilihat harga yang paling ujung seluruh JBU maupun yang avtur di September dan Oktober itu harganya tetap," katanya.

Faktor Geopolitik Jadi Pemicu Utama

Kenaikan harga BBM nonsubsidi dan avtur sepanjang tahun ini disebut mayoritas dipengaruhi faktor geopolitik yang dimulai sejak 28 Februari 2026. Konflik di Timur Tengah pada akhir Februari menjadi titik balik lonjakan harga di pasar global.

"Kenaikan harga BBM nonsubsidi dan avtur ini memang mayoritas dipengaruhi faktor geopolitik sejak 28 Februari 2026," kata Joko.

Meski begitu, Joko mengklaim harga BBM dan avtur Indonesia masih kompetitif dibanding negara-negara sekitar. Ia membandingkannya dengan sesama negara ASEAN serta Australia, Pakistan, dan India.

"Kalau kita compare harga BBM dan avtur kita dengan negara-negara sekitar, negara-negara ASEAN maupun negara-negara terdekat, Australia, Pakistan, India, dan sebagainya. Sebenarnya in overall masih sangat kompetitif dibandingkan negara-negara yang lain," terangnya.

Pertamax Turbo dan Dexlite Ikut Formula Harga Dunia

Berbeda dari Pertamax dan Pertamax Green yang ditahan, harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex menyesuaikan diri dengan pergerakan harga minyak dunia. Penyesuaian itu mengacu pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang formula harga dasar perhitungan harga jual eceran BBM umum jenis bensin dan solar yang disalurkan lewat SPBU atau SPBN.

Artinya, ketiga produk tersebut bisa bergerak naik atau turun mengikuti pasar, sementara Pertamax dan Pertamax Green tetap dipatok sesuai arahan bulanan.

Konsumen Beralih ke Pertalite, Permintaan Subsidi Naik

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengakui ada pergeseran pola konsumsi BBM dari nonsubsidi ke subsidi. Konsumen yang sebelumnya memakai Pertamax kini beralih ke Pertalite yang berstatus BBM subsidi.

Selisih harga yang cukup besar antara kedua jenis BBM disebut menjadi penyebab utama peralihan tersebut. Dampaknya, permintaan terhadap BBM subsidi diprediksi meningkat.

"Sekarang kan kita tahu bahwa ada terjadi shifting kan dari yang tidak memakai BBM subsidi, sekarang mereka memakai BBM subsidi. Pasti kan ada peningkatan permintaan," ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/10/2026).

Pernyataan Bahlil ini menjadi konteks penting bagi kebijakan penahanan harga Pertamax. Selama selisih harga nonsubsidi dan subsidi tetap lebar, tekanan pada kuota BBM subsidi akan terus berlanjut, sementara Pertamina memilih menahan harga nonsubsidi demi menjaga daya beli konsumen di tengah kondisi geopolitik yang belum stabil.

Follow bandungline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: oto.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks