JAWA BARAT — RUPSLB PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk menunjuk Nanang Hendarno sebagai Direktur Utama, menggantikan Dian Siswarini, sekaligus menyetujui pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke InfraNexia. Keputusan ini menjadi landasan Telkom merampungkan transformasi dari operating holding menjadi strategic holding.
Paragraf pembuka: Nanang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Network Telkom Indonesia. Ia menggantikan Dian Siswarini yang baru memimpin perusahaan sejak Mei 2025. Pergantian direksi ini diputuskan dalam RUPSLB yang digelar di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Apa Isi Keputusan RUPSLB Telkom
Pemegang saham menyetujui dua agenda sekaligus: pergantian direktur utama dan pemisahan bisnis serta aset wholesale fiber connectivity ke InfraNexia. Nanang menyebut persetujuan ini sebagai fondasi bagi Telkom Group untuk menuntaskan proses pemisahan yang sudah dirancang sejak lama.
Langkah pemisahan ini masuk dalam kerangka strategi TKLM 30, tepatnya pilar ketiga tentang unlocking value. Tujuannya memonetisasi aset bernilai tinggi dan mengoptimalkan pengelolaan agar nilai serta peluang pertumbuhan perusahaan lebih besar.
Dampak ke Infrastruktur Jaringan Telkom
Lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan Telkom kini resmi dikelola InfraNexia. Dengan skema itu, Telkom melihat ruang lebih luas untuk menaikkan utilisasi asetnya.
Pemisahan ini juga memperluas infrastruktur sharing dan membuka akses kemitraan strategis bagi pelaku industri telekomunikasi di Indonesia. Tujuannya mempercepat pemerataan konektivitas digital, terutama di wilayah yang selama ini belum terjangkau jaringan memadai.
Telkom Beralih ke Strategic Holding
Bagi Nanang, pemisahan ini menandai transisi Telkom dari operating holding menjadi strategic holding. Masing-masing entitas di grup mendapat ruang mengembangkan bisnis secara lebih agile dengan lini usaha yang terkonsentrasi.
Di sisi lain, Telkom dapat lebih mempertajam peran strategisnya, seperti penguatan tata kelola dan sinergi penciptaan nilai di tingkat grup.
Harapan ke Depan
Nanang berharap InfraNexia menjadi salah satu katalis sumber pendapatan Telkom Group. Ia menargetkan pertumbuhan berkelanjutan sekaligus kontribusi yang lebih kuat terhadap kinerja dan value creation bagi pemegang saham serta seluruh pemegang kepentingan.
Bagi pelaku industri telekomunikasi, masuknya InfraNexia sebagai pengelola infrastruktur membuka opsi baru untuk menyewa jaringan tanpa harus membangun sendiri. Skema itu berpotensi menekan biaya investasi penyedia layanan internet dan mempercepat perluasan jaringan di daerah.
Penutup: Pergantian direksi dan pemisahan aset ini menempatkan Telkom pada struktur yang lebih ramping di sisi operasional, dengan InfraNexia sebagai pemegang aset jaringan. Keberhasilan strategi TKLM 30 akan terlihat dari seberapa cepat InfraNexia menaikkan utilisasi aset dan menarik mitra industri baru.