Hilirisasi Nikel Ubah Wajah Ekonomi Morowali, Industri Kuasai 75 Persen

Penulis: Haris Maulana  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 08:52:31 WIB
Ekonom CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai sektor industri kini menopang lebih dari 75 persen perekonomian Morowali.

JAWA BARAT — Ekonom CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai hilirisasi nikel telah mengubah struktur ekonomi sejumlah daerah di Sulawesi, dengan sektor industri kini menopang lebih dari 75 persen perekonomian Morowali. Pergeseran ini menandai transisi dari ekonomi berbasis tambang dan pertanian menuju industrialisasi pengolahan mineral yang berlangsung dalam satu dekade terakhir.

Perubahan struktur ekonomi itu tidak terjadi dalam semalam. Morowali dan Morowali Utara di Sulawesi Tengah menjadi contoh paling jelas bagaimana pembangunan smelter dan kawasan industri pengolahan mineral menarik arus investasi, tenaga kerja, dan aktivitas ekonomi pendukung ke wilayah yang sebelumnya bergantung pada sektor primer.

Faisal menyebut pergeseran ini sebagai dampak langsung hilirisasi terhadap daerah penghasil mineral. Pengembangan industri pengolahan memperpanjang rantai nilai mineral di dalam negeri, alih-alih mengekspornya dalam bentuk mentah.

Morowali Jadi Barometer Hilirisasi

Data yang dipaparkan Faisal menunjukkan dominasi sektor industri di Morowali kini melampaui 75 persen. Angka itu jauh berbeda dibanding satu dekade lalu ketika pertambangan dan pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

"Kalau dulu Morowali didominasi pertambangan dan pertanian, sekarang lebih dari 75 persen ekonominya ditopang sektor industri," kata Faisal, dikutip Kamis (1/10/2026).

Perkembangan serupa mulai terlihat di Sulawesi Selatan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi provinsi itu tumbuh 5,59 persen pada triwulan II 2026 dibanding periode sama tahun sebelumnya, dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp206,70 triliun.

Rantai Nilai Kendaraan Listrik Mulai Menyatu

Integrasi rantai pasok kendaraan listrik di Indonesia juga mulai terbentuk, dari aktivitas penambangan hingga pengolahan bahan baku baterai. Faisal menilai sektor hulu sudah matang, sementara lini tengah dan hilir masih dalam tahap pengembangan.

"Kalau di upstream kita sudah high maturity, sementara di midstream dan downstream masih berkembang. Tapi ke depan ini bisa meningkat cepat, dan dampaknya terhadap perekonomian daerah juga akan semakin besar," ujarnya.

PT Vale Indonesia Tbk, yang berada di bawah Grup MIND ID, mengembangkan sejumlah proyek pertumbuhan di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako sebagai bagian dari ekspansi rantai nilai nikel. Proyek itu mencakup fasilitas berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan antara yang dipakai dalam rantai pasok material baterai.

Pengembangan HPAL tersebut terkait dengan proyek Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako Limonite. Kehadiran fasilitas pengolahan ini memperkuat posisi Sulawesi sebagai simpul penting industrialisasi berbasis sumber daya alam.

Manfaat Bergantung pada Keterkaitan Lokal

Faisal mengingatkan besarnya manfaat hilirisasi tidak semata ditentukan peningkatan kapasitas produksi. Keterkaitan industri dengan ekonomi lokal, pengembangan keterampilan tenaga kerja, keterlibatan usaha daerah, dan pengelolaan dampak lingkungan menjadi syarat agar transformasi ekonomi berjalan berkelanjutan.

Tanpa keterkaitan itu, kawasan industri berisiko tumbuh sebagai enclave yang minim efek berganda bagi warga sekitar. Sebaliknya, jika usaha lokal dan tenaga kerja setempat terlibat, hilirisasi bisa memperluas sumber pertumbuhan daerah dan membuka aktivitas ekonomi baru di luar sektor primer.

Perubahan struktur ekonomi di Morowali, Morowali Utara, dan sejumlah wilayah Sulawesi lain menunjukkan hilirisasi bukan lagi sekadar wacana kebijakan. Dampaknya mulai terukur, meski kualitas transformasi itu masih bergantung pada seberapa dalam industri pengolahan menyatu dengan perekonomian daerah di sekitarnya.

Reporter: Haris Maulana
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top