KUNINGAN — Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar membuka program GEMBOL sebagai bagian dari penguatan sektor pertanian di daerah tersebut. Program itu dikaitkan dengan penetapan Kuningan sebagai kawasan pertanian nasional sesuai Keputusan Menteri Pertanian Nomor 02/KPTS/2025. Kegiatan berlangsung di Lapangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan.
Dalam sambutannya, Dian menyatakan pembangunan tidak bisa hanya diukur dari infrastruktur. Ia menempatkan ketahanan pangan sebagai fondasi utama.
"Percuma jalan bagus, gedung bagus, teknologi maju, kalau kita tidak bisa makan. Intinya pembangunan itu harus mengutamakan ketahanan pangan," ujar Bupati seperti dikabarkan Humas Pemkab Kuningan.
Dian menyoroti potensi ubi jalar atau boled asal Kuningan yang dinilai punya peluang dikembangkan lebih jauh. Ia menceritakan pengalamannya melihat produk olahan ubi jalar Kuningan dalam sebuah festival makanan internasional di Seoul, Korea Selatan.
Menurutnya, komoditas pertanian lokal bisa menembus pasar luar negeri jika dikelola serius. Dian juga menyoroti pergeseran selera konsumen di sejumlah negara Asia.
"Boled ini prospeknya luar biasa. Korea, Jepang dan negara-negara Asia lainnya sudah mulai melirik makanan yang sehat seperti ubi jalar. Ini peluang yang harus kita manfaatkan," ungkapnya.
Ia menilai pengembangan pertanian tidak cukup hanya dengan menaikkan produksi. Petani perlu diperkuat lewat pengetahuan, teknologi, kelembagaan, akses sarana produksi, hingga pemasaran.
Dian mendorong petani membangun kelembagaan yang kuat dan mengedepankan kebersamaan. Menurutnya, posisi tawar petani akan berbeda jika mereka kompak.
"Kalau kita berjuang sendiri-sendiri mungkin tidak terdengar. Tetapi kalau petani kompak dan memiliki kelembagaan, posisi tawarnya akan berbeda," katanya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah menyampaikan kegiatan tersebut merupakan bagian dari penguatan pembangunan pertanian melalui demplot, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta pemberian bantuan sarana produksi.
Ia menjelaskan berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 02/KPTS/2025 tentang Kawasan Pertanian Nasional, Kabupaten Kuningan ditetapkan sebagai bagian dari kawasan pertanian nasional untuk sejumlah komoditas tanaman pangan. Kawasan yang ditetapkan meliputi padi 27.716 hektare, jagung 2.500 hektare, ubi kayu 1.180 hektare, serta ubi jalar 2.530 hektare.
"Kebijakan ini bukan hanya angka dalam sebuah dokumen. Ini adalah amanah, peluang sekaligus tanggung jawab. Kawasan pertanian yang telah ditetapkan harus kita isi dengan produktivitas, inovasi, peningkatan kualitas, penguatan kelembagaan dan peningkatan kesejahteraan petani," ujar Wahyu.
Dalam kegiatan tersebut diserahkan bantuan sarana produksi berupa pupuk kepada 300 petani ubi jalar di Kabupaten Kuningan. Wahyu menegaskan bantuan itu tidak boleh dimaknai sebatas pemberian barang.
Pupuk merupakan input produksi, sedangkan tujuan akhirnya adalah meningkatkan produktivitas, keuntungan usaha tani, dan kesejahteraan keluarga petani.
"Bantuan tanpa pengetahuan tidak akan optimal, teknologi tanpa pendampingan tidak akan maksimal, dan produksi tanpa kelembagaan yang kuat akan sulit berkembang menjadi kekuatan ekonomi," jelasnya.
Kegiatan itu juga menjadi momentum sosialisasi demplot atau demonstrasi plot pertanian serta pengembangan kapasitas kelembagaan petani.
Petani dari Desa Linggamekar, Kecamatan Cilimus, Bangun, menyampaikan pengalaman keberhasilan pelaksanaan demplot ubi jalar. Sebelum penerapan pola budidaya dan pemupukan dalam demplot, hasil produksi di wilayahnya berada di kisaran 3,5 ton per 100 bata.
Setelah dilakukan penerapan berdasarkan hasil demplot, produktivitas meningkat hingga sekitar 6,3 ton per 100 bata pada musim penghujan. Menurut Bangun, keberhasilan itu tidak hanya ditentukan oleh pupuk, tetapi juga proses budidaya secara menyeluruh.
Proses tersebut meliputi persiapan lahan, kondisi pH tanah, pemilihan bibit, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, hingga perawatan tanaman.