JAWA BARAT — Keputusan menahan harga BBM subsidi diumumkan Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (11/9/2026). Ia menyebut stabilitas harga energi jadi prioritas untuk melindungi daya beli kelompok menengah ke bawah.
Kenaikan harga BBM dinilai berpotensi menekan harga barang dan jasa. Pemerintah memilih menanggung selisih harga agar inflasi tidak melonjak.
Brent naik 6,3 persen ke US$107,63 per barel pada penutupan Kamis (10/9/2026). West Texas Intermediate (WTI) menguat 6,7 persen ke US$102,48 per barel.
Lonjakan dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Harga Indonesia Crude Price (ICP) Agustus 2026 tercatat US$89,43 per barel, naik US$7,75 dari Juli 2026 yang berada di US$81,68 per barel.
Angka itu jauh di atas asumsi ICP dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Selisih ini yang membuat kebutuhan anggaran subsidi membengkak.
Bahlil menegaskan pemerintah menahan harga meski harga minyak dunia tidak menentu. "Khususnya menyangkut dengan harga minyak dunia yang tidak menentu, tetapi pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan," ujarnya.
Ia mengakui lonjakan harga minyak memberi tekanan ke keuangan negara. Saat harga minyak naik sementara harga BBM subsidi ditahan, pemerintah harus menanggung selisihnya lewat tambahan subsidi.
"Kenapa? Karena pasti penambahan subsidinya nambah, tetapi Bapak Presiden Prabowo berpandangan membela dan menjaga daya beli masyarakat untuk menengah ke bawah itu jauh lebih penting, sekalipun dengan berbagai macam hal-hal yang harus kita lakukan," jelas Bahlil.
Pemerintah akan menambah anggaran subsidi energi tahun ini. Bahlil belum memastikan besaran tambahan yang diperlukan.
"Menambah anggaran subsidi saya pikir itu bagian daripada langkah yang kita lakukan," katanya.
Menurut Bahlil, kebijakan ini memang menambah beban APBN. Namun menjaga harga BBM subsidi tetap stabil dinilai perlu untuk mencegah kenaikan harga kebutuhan pokok.
Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyebut kenaikan ICP Agustus 2026 tidak lepas dari dinamika pasar minyak global. Risiko geopolitik dan potensi gangguan distribusi lewat Selat Hormuz serta Laut Merah mendorong kekhawatiran pasar terhadap pasokan.
"Berbagai ketegangan di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas kilang, telah memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan minyak dunia," ujar Laode melalui keterangan resmi.
Memasuki September 2026, ICP diproyeksikan masih tinggi di kisaran US$83 hingga US$87 per barel. Kementerian ESDM akan terus memantau harga minyak mentah dunia dan dinamika pasar global.
Laode memastikan formula ICP tetap transparan dan mencerminkan perkembangan pasar internasional. Hal itu dinilai penting agar penetapan harga minyak Indonesia tetap akuntabel, baik bagi keuangan negara maupun industri hulu migas.
Keputusan ini berlaku untuk BBM bersubsidi. Pemerintah belum mengumumkan rincian jenis BBM dan volume yang terdampak, termasuk apakah penyesuaian berlaku untuk seluruh wilayah.
Informasi resmi soal harga eceran terbaru dapat dicek melalui kanal Kementerian ESDM dan Pertamina. Masyarakat diminta tidak mempercayai informasi harga dari sumber tidak resmi.
Pemerintah kini menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara stabilitas harga BBM, perlindungan daya beli, dan kesehatan APBN. Tambahan subsidi yang belum dipastikan besarannya akan menentukan seberapa lama kebijakan ini bisa bertahan.