495 Prasarana Air Bersih Rusak Pascagempa Sikka, Kementerian PU Jajaki Konversi Air Laut Bersama BRIN

Penulis: Redaksi  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:26:36 WIB
495 Prasarana Air Bersih Rusak Pascagempa Sikka, Kementerian PU Jajaki Konversi Air Laut Bersama BRIN

Sikka – Sebanyak 495 unit prasarana air bersih di Kabupaten Sikka tercatat rusak akibat gempa bumi, dengan 481 unit di antaranya mengalami kerusakan berat. Angka ini menjadi pemicu Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk mencari solusi teknologi alternatif, termasuk menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam upaya pemulihan akses air bersih di Pulau Palue, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menteri PU Dody Hanggodo menyatakan bahwa pihaknya telah menjajaki berbagai kemungkinan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk mengonversi air laut menjadi air tawar, sebagai jawaban atas sulitnya mencari sumber air bersih di pulau tersebut. Hal ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) bersama Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Sikka dan seluruh balai Kementerian PU di NTT, Jumat (23/8) malam.

“Saya sudah kontak Kepala BRIN, siapa tau mereka punya teknologi apapun untuk mengkonversi air laut itu menjadi tawar. Itu menurut saya akan jauh lebih efektif dan efisien,” ujar Dody Hanggodo.

Kondisi geografis Pulau Palue yang relatif kecil serta keberadaan gunung berapi aktif menjadi tantangan tersendiri dalam pencarian sumber air bersih. Menteri Dody mengaku telah memperkirakan kesulitan tersebut sejak awal.

“Saya sudah perkirakan, ini kan pulau tidak terlalu besar, kemudian saya juga terinfokan ada gunung berapi yang lumayan masih aktif, jadi saya sudah bayangkan bahwa itu akan susah mencari sumber air bersih. Tapi kita akan terus upayakan. Nanti kita yang jungkir balik untuk mencari apapun supaya teman-teman kita di Palue itu tetap merasa bagian dari NKRI,” kata Menteri Dody.

Kerusakan infrastruktur air bersih menjadi sorotan utama pascagempa di Kabupaten Sikka. Dari total 495 prasarana yang terdampak, mayoritas rusak berat, terutama di Kecamatan Palue pada Bak Penampung Air Hujan (BPAH) milik warga. Sementara itu, infrastruktur milik Perumda di wilayah daratan yang mengalami kerusakan ringan dan sedang telah diperbaiki.

Data dari Kementerian PU dan Pemkab Sikka menunjukkan dampak terbesar gempa terjadi pada sektor pelayanan dasar. Selain air bersih, tercatat 371 prasarana sanitasi rusak, dengan 302 unit di antaranya rusak berat—mayoritas fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) milik masyarakat di Kecamatan Palue.

Menteri Dody menegaskan bahwa percepatan pemulihan infrastruktur dasar ini merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto agar warga terdampak bencana dapat segera bangkit dan kembali beraktivitas normal.

“Kami melaksanakan ini karena arahan dan dukungan penuh dari Bapak Presiden Prabowo Subianto, kita hanya membantu mewujudkan apa-apa yang beliau inginkan, sehingga warga yang terdampak bencana itu bisa secepatnya tersenyum,” tuturnya.

Dengan kombinasi perbaikan infrastruktur sumber daya air dan sanitasi serta penjajakan teknologi konversi air laut, Kementerian PU berharap kebutuhan dasar masyarakat Pulau Palue dapat segera pulih. Upaya ini tidak hanya menargetkan penanganan darurat, tetapi juga solusi infrastruktur jangka panjang yang berkelanjutan.

Reporter: Redaksi
Back to top