KUNINGAN — Fenomena anak muda yang menjalani hidup dengan mode auto-pilot ternyata juga merambah urusan memilih pasangan. Banyak yang tanpa sadar sudah memiliki template sendiri di kepala: harus cantik, manis, lucu, dan kalau bisa senyumnya kayak aktris drakor.
Tidak ada yang salah dengan menyukai keindahan. Itu manusiawi. Namun yang kerap lucu adalah gap antara ekspektasi dan realita. Ekspektasi ingin pasangan visualnya seperti lukisan Renaissance, sementara realita diri sendiri tiap pagi lihat kaca cuma bisa menghela napas.
Padahal, milih pasangan itu logikanya sama kayak milih kendaraan. Tidak mungkin beli mobil cuma karena catnya glossy dan lampunya LED projector keren, sementara mesinnya suka mogok dan AC-nya angin doang. Pasti lihat spesifikasi, baca user manual, minimal lihat review YouTube.
Giliran urusan hati, user manual itu dibuang jauh-jauh karena merasa cukup berbekal modal "yakin". Padahal di zaman serba canggih ini, ada baiknya membuka lagi user manual dari sumber yang sudah teruji berabad-abad.
Rasulullah SAW bersabda: "Perempuan itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang baik agamanya, niscaya kamu akan beruntung." (HR. Bukhari No. 5090, Muslim No. 1466)
Hadis ini seperti seorang mentor yang sedang roasting. Beliau tidak bilang cantik itu tidak penting. Sama sekali tidak. Cantik itu bonus, free gift, welcome drink. Tapi ketika ditanya mana yang harus jadi prioritas utama, jawabannya jelas: agama. Dalam bahasa sehari-hari artinya akhlak.
Bayangkan skenario sederhana. Mendapat pasangan visual 10/10, mirip pahlawan di game gacha. Tapi tiap hari update-nya cuma marah-marah. Baju kusut dikit dicereweti, pulang telat 5 menit diinterogasi seperti ditilang polisi. Itu namanya bukan rumah, tapi battle royale.
Sementara itu, ada tipe pasangan yang secara visual biasa saja. Tapi akhlaknya seperti powerbank: selalu bisa mengisi ketenangan di mana pun dan kapan pun dibutuhkan. Saat cerita soal atasan yang toxic, dia mendengarkan, bukan malah nyaut "Makanya kerja yang bener." Saat saldo ATM lagi low batt, dia jadi support system, bukan alarm pengingat utang.
Ada satu kebenaran pahit yang sering dilupakan: wajah itu ada masa kedaluwarsanya. Hari ini pipi tirus, dagu V-line, kulit flawless. Tapi 10-20 tahun lagi, gravitasi akan melakukan tugasnya. Pipi turun, dagu menyatu dengan leher, dan rambut berubah warna. Lalu apa yang tersisa? Hanya satu: kecantikan akhlaknya.
Lucunya, banyak yang waktu muda menggebu-gebu mengejar pasangan visual goals, tapi lupa bahwa yang menemani saat sakit bukan wajahnya, melainkan tangannya yang merawat. Yang bertahan saat ekonomi gonjang-ganjing bukan senyum manisnya, melainkan kesabarannya. Yang mengisi hari tua nanti bukan photo card, melainkan obrolan dan tawa yang nyaman.
Anggap saja sedang mengisi spesifikasi kendaraan impian. Jangan cuma centang kolom "warna metalik" dan "velg racing". Tapi centang yang paling utama: "mesin bandel", "irit emosi", dan "nyaman diajak touring seumur hidup". Soalnya nanti, ketika di tengah jalan, bukan velg racing yang menolong. Tapi kualitas yang tak kasat mata.
Pilihlah dengan bijak. Jangan sampai menyesal di tengah jalan, karena user manual-nya dulu cuma dibaca sekilas, lalu sok-sokan expert.