CIREBON — Tidak ada lagi siswa yang diam-diam menunduk di balik meja untuk membuka media sosial saat guru menerangkan. Sejak Senin (11/5/2026), setiap pagi pukul 07.00 WIB, ketua kelas mengumpulkan ponsel teman-temannya dan memasukkannya ke kotak hitam bersekat. Kotak itu lalu disimpan di loker ruang guru dan baru dikembalikan saat bel pulang.
Kebijakan ini bukan larangan total, melainkan pembatasan terukur. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 3 Cirebon, Asep Suhendar, menegaskan ponsel masih boleh digunakan pada pagi hari untuk tadarus Alquran melalui aplikasi digital, doa bersama, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
“Posisinya memang kami batasi, bukan melarang,” ujar Asep.
Menurutnya, sekolah melihat penggunaan gawai mulai mengganggu fokus belajar. Tidak hanya media sosial dan permainan daring, kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) juga membuat sebagian siswa terlalu bergantung pada jawaban instan. Razia ponsel dinilai tidak efektif jika perangkat tetap berada di tangan siswa selama jam pelajaran.
Pada dua hari pertama penerapan aturan, suasana sekolah terasa canggung. Banyak siswa kebingungan mengisi waktu istirahat tanpa layar digital. Koridor sempat lebih sepi dari biasanya.
Memasuki hari keenam, perubahan mulai terlihat. Lapangan basket kembali ramai. Di sudut kelas, beberapa siswa serius memainkan catur. Ada pula yang membawa balok susun dan congklak plastik warna-warni. Tawa dan percakapan mulai terdengar lebih sering dibanding suara video dari ponsel.
Bagi Cinta Ghaisani, salah satu siswi, perubahan itu justru menyenangkan. “Bagus karena HP sering membuat kita terlalu bergantung, termasuk terlalu mengandalkan AI untuk berbagai hal. Sekarang jadi lebih sering ngobrol dengan teman,” katanya.
Pembatasan ini tidak hanya mengubah aktivitas istirahat, tetapi juga pola interaksi siswa. Mereka yang sebelumnya asyik dengan layar masing-masing kini saling berhadapan, bermain catur, atau sekadar mengobrol di koridor. Sekolah berharap kebiasaan ini terus berlanjut dan mengurangi ketergantungan pada perangkat digital di lingkungan pendidikan.