BANDUNG — Suasana kios-kios pedagang daging sapi di Pasar Kosambi tampak sepi total sejak Minggu (17/5/2026). Tak satu pun lapak buka, dan pembeli yang datang hanya bisa pulang dengan tangan kosong. Aksi mogok ini merupakan bentuk protes para pedagang terhadap harga daging sapi segar yang dinilai sudah tidak wajar.
Harga di tingkat distributor saat ini mencapai Rp 160.000 per kilogram. Angka tersebut naik signifikan dibandingkan harga normal yang biasanya berkisar di bawah Rp 130.000 per kilogram. Para pedagang mengaku tidak mampu menjual dengan harga eceran yang kompetitif tanpa merugi.
Meski belum ada pernyataan resmi dari distributor, para pedagang menduga lonjakan harga dipicu oleh terbatasnya pasokan sapi potong dari peternak. Faktor distribusi dan biaya transportasi juga disebut ikut mendongkrak harga di tingkat pasar tradisional. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya permintaan menjelang akhir pekan.
Seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya mengatakan, harga pokok penjualan sudah terlalu tinggi. "Kalau kami jual Rp 170 ribu, pembeli kabur. Kalau jual Rp 150 ribu, kami rugi. Mau jual berapa?" ujarnya.
Mogok massal ini membuat warga sekitar Pasar Kosambi kesulitan mendapatkan daging sapi segar. Beberapa pembeli terpaksa beralih ke daging ayam atau ikan, sementara yang lain memilih menunda belanja. Pasar-pasar tradisional lain di Bandung mulai merasakan dampak ikutan, dengan lonjakan permintaan yang belum bisa dipenuhi penuh.
Pantauan di lapangan, Selasa siang, tidak ada aktivitas jual beli sama sekali di area los daging sapi. Sejumlah kios yang biasanya ramai hanya terkunci rapat. Beberapa pedagang terlihat duduk di luar kios sambil menunggu perkembangan harga dari distributor.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kesepakatan antara pedagang Pasar Kosambi dengan distributor daging sapi. Para pedagang berencana melanjutkan mogok hingga ada penurunan harga yang signifikan. Mereka juga berharap pemerintah kota segera turun tangan untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok di pasar tradisional.
Pemkot Bandung melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait aksi mogok ini. Para pedagang berharap ada operasi pasar atau intervensi harga dari pemerintah dalam waktu dekat agar aktivitas jual beli bisa kembali normal.