SUMEDANG — DKPP Kabupaten Sumedang mencatat, permintaan ubi Cilembu untuk kebutuhan produk olahan dan ekspor mencapai 12 hingga 40 ton per bulan. Angka ini menjadi tekanan tersendiri bagi petani karena kontinuitas pasokan kerap terganggu cuaca dan kondisi tanah.
Kepala DKPP Sumedang Tono Suhartono mengatakan, uji coba kultur jaringan telah dilakukan di sejumlah wilayah dengan melibatkan kelompok tani dan aparat kewilayahan. Sekitar 5.000 bibit sudah ditanam di 26 titik kerja sama.
Selama ini, ubi Cilembu hanya bisa tumbuh optimal di tanah asalnya. Karakteristik rasa manis menyerupai madu setelah dipanggang menjadi pembeda utama dibanding ubi jalar lain, tapi juga menjadi kelemahan karena sulit direplikasi di luar Cilembu.
"Pengembangan Ubi Cilembu ini terus kita dorong di hulu melalui kultur jaringan dan juga hilirisasi agar bisa memperluas produksi sekaligus meningkatkan daya saing pasar," kata Tono di Sumedang, Senin.
Saat ini, sentra produksi ubi Cilembu tersebar di empat kecamatan utama: Pamulihan, Rancakalong, Tanjungsari, dan Sukasari. Total luas lahannya mencapai lebih dari 462 hektare.
Desa Cilembu sebagai wilayah asal memiliki sekitar 229 hektare lahan budidaya dengan produksi rata-rata 1.600 hingga 1.900 ton per tahun. Produktivitas berkisar 15 hingga 20 ton per hektare, dan bisa mencapai 40 ton per hektare dalam kondisi optimal.
Selain memperkuat budidaya, Pemkab Sumedang juga mendorong hilirisasi lewat produk UMKM. Salah satu yang dikembangkan adalah bakpia ubi yang memanfaatkan rasa manis alami tanpa tambahan gula.
"Ubi Cilembu ini bisa diolah menjadi berbagai produk, termasuk bakpia tanpa gula tambahan karena sudah manis alami," ujar Tono.
Tantangan terbesar ke depan, menurut Tono, adalah menjaga kontinuitas produksi di tengah meningkatnya permintaan pasar. Fluktuasi cuaca dan ketergantungan pada tanah tertentu masih menjadi kendala utama yang coba dijawab lewat inovasi kultur jaringan.